Sepuluh tahun bergulirnya reformasi di negeri ini, ternyata belum menjawab tujuan dari reformasi itu sendiri. Reformasi berjalan hanya untuk slogan belaka, bisa dikatakan NATO (No Action Talk Only). Saya akui, gerakan reformasi di negeri ini kian jauh dari harapan.
Tujuan utama reformasi seperti, pemulihan demokrasi politik, pemulihan demokrasi sosial dan ekonomi sesungguhnya memiliki hakikat untuk mengembalikan perjalanan bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam UUD 1945. Menjatuhkan pemerintahan Soeharto terbatas hanya untuk merubuhkan pemerintahan yang gagal mengembankan amanat UUD 1945 karena tidak amanah dalam menjalankan konstitusi. Penjatuhan Soeharto seharusnya menjadi entry point redemokratisasi bukan malah menjadikan reformasi sebagai penjungkirbalikan, pengaburan dan penguburan tiga pilar utama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu Rakyat, UUD 1945 dan Negara.
Saat ini, rakyat dalam kondisi terpecah, tanpa kohesi, dan saling menghancurkan. Yang sengsara semakin sengsara tanpa ada pembelaan dari Negara. Atas nama kepentingan rakyat, UUD 1945 dan Pancasila tidak lagi dijalankan secara konsekuen. Amandemen UUD 1945 tidak lebih dari upaya menciptakan kekuasaan tanpa adanya kesejahteraan, keadilan dan kebenaran bagi rakyat. Akibat dari kesemua itu, Negara Indonesia cenderung menjadi negara kekuasaan dari pada menjadi Negara hukum yang memberi keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Selama reformasi berjalan, Laporan Bank Dunia tahun 2006 menyatakan kemiskinan bertambah mencapai 49 persen (108 juta) dari rakyat Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi 5,5 %. Sementara laju inflasi pada akhir Desember 2006 dilaporkan mencapai 1, 21 % yang ditandai dengan kenaikan harga sembako antara lain seperti beras medium naik 75 % (dari Rp. 2.851 per kg menjadi Rp 5000 per kg), gula pasir naik 65 % (dari Rp 4.240 menjadi Rp. 7000), tepung terigu naik 31 % (dari Rp 3.659 menjadi Rp. 4.800) dan minyak goreng naik 48 % (dari Rp. 5.178 menjadi Rp 7.500).Intinya, perekonomian dalam masa 10 Tahun reformasi masih rentan terhadap unsur ketidakpastian, baik akibat pengaruh ketidakstabilan politik maupun keamanan.
Bagaimana dengan sisi penegakan hukum? setali tiga uang. Ternyata tujuan Reformasi di bidang Hukum tidak ada yang tercapai. Hukum di negeri ini, pasca reformasi, tidak lebih dari sekedar instrument politik. Lihat apa yang dilakukan para aparat penegak hukum dalam kasus BLBI, hanya sibuk mencari data tanpa adanya tindak lanjut yang pasti.
Kembali kepada hakekat reformasi, maka sudah sepatutnya bangsa ini menuntut adanya kepemimpinan yang orientatif dan berani berbuat dengan tidak lupa kepada semua elemen pro reformasi untuk bersama-sama peduli dengan tujuan reformasi itu sendiri.
P.s :
Untuk para pembaca yang mempunyai opini tentang hal ini, silahkan berkomentar.

hyahahahaha..
setuju !!!
kita butuh REFORMASI, bukan hanya RE-INFORMASI (sebatas pemberitahuan ttg masa reformasi di sekolah)
hyahahaha..
Mantep……
INovatif
mau tau jawabannya? karena para pemimpinnya gak ada yang bener2 mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan rakyat. Dan juga gak bisa mimpin rakyat dengan cara2 yang benar. jadi intinya adalah Human Error!
@ Chef blajaran..
yayaya.
terima kasih udah setuju.
hehe.
@ Gia Irlanda
makasih gia.
hehe.
@ Ari Ajah
ya, saya setuju.
makasih udah mampir
Reformasi untuk menjadi negara yg demokrasi memang butuh waktu lama agar bisa sempurna..Amerika saja membutuhkan waktu ratusan tahun agar masyarakatnya dewasa menjalankan demokrasi..Mdh2an kita bisa menjadi bangsa yg lebih baik dari sekarang…ok…cheers
@ Aries
Makasih opininya.
Cheers juga !!
XD
Mantap infonya
@ Dinoe
Makasih.
tau neh mau komen apa..
apa pendapatmu tentang pemilu 2009: http://demonzbabtizm.wordpress.com/indonesians-votes-on-election-2009/
@ ireng_ajah
hehe.
makasii udah mampir.
@ demonzbabtizm
pendapat saya?
ya itu.
XD
makasii uda mampir.
*walaupun sepertinya anda sedikit salah tempat*
mantap dek..
tumben tema nya kyk gini..
hehehe..
@ Zaky
makasih bg.
gak tau nih.
kesambet vampire kali.
mantepp cuii !
@ qqi_
makasih man.
jawabannya pada kampanye damai besok nich jeng .,., salam kenal yach
wah,…
kecil2 udah bicara politik yahhh…
Malu dong gw segede ini masih bicara,..mamam ama mimik cucu…hee..hee
hai adik ifachan,…blognya bagus deh…keep blogging
yans
http://yans.blogdetik.com
reformasi belum tercapai karena…. rakyat, dpr, dll belum dewasa menjalankannya
Kita bukan butuh reformasinya,,
tapi kita butuh orang yang benar2 niat untuk mengubah negeri ini,,
bukan hanya sekedar ngomong di setiap tempat dan waktu,,
seperti slogan salah satu produk,,
” no talk do more”
tidak akan jadi reformasi itu jika setiap orang hanya pandai cuap2 tak berguna,,
jika memang setiap orang mempunyai opini, saran, kritik, keragu2an, ketidak senangan, atau bahkan benci dengan apa yang sudah diterapkan,,,,
kenapa hanya ngomong saja,,
tindakan yang “real” akan lebih dihargai daripada cuman “besar mulut”,,,,
sekian dari saya,,
terima kasih,,
@ uki
ya.
semoga bisa berjalan lancar dan tetep damai.
*jangan panggil jeng dong, dek aja*
@ Yans
adoh, jangan gitu dong.
Ini karena cuma kebetulan tertarik dengan topik ini.
btw.
makasih deh
@ attayaya
yep.
betul banget itu.
*termasuk saya juga belum dewasa*
@ SMP Negeri 6 Batam
hehe.
dateng juga, Pak.
hm.
ya.
bener itu.
*termasuk saya, terkadang cuma NATO [malu-maluin mode on]*
makasih Pak udah baca tulisan muridmu ini.
Adik Ifachan,…
Atas permintaan Tukaran Link sudah di setujui…hee..hee
Link balik ya Blog saya,…thanks
cheeersss
yans
http://yans.blogdetik.com
eh…
tapi gimana mewujudkan reformasi yank sesuai dengan tuntutan rakyat pda mei ’98 itu? kta tau emg reformasi cuma NATO (No Action Talk Only), mustinya kita DMTL (Do More Talk Less) wkwkwk!!!
@ yans
makasih.
sudah saya link back.
@ Xennon
Wah, kalo menurut saya pribadi sih.
Harus adanya kerjasama rakyat dengan pemerintah.
Trus orang pemerintah gak usah KKN.
dan lain lain.
gimana menurut anda?
Ehm.
Makasih udah mampir.
mungkin karena belum siap kali tapi udah bilang reformasi heheh
Reformasi oleh rakyat – untuk rakyat – demi rakyat – tapi rakyatnya yang mana ya..?
Nice Post, Thanks
wah bahasanya berat banget nih
hebat nih kecil2 udah make bahasa dewasa gini
hohoho
tapi ntar belum ikut mencontreng yah
pilih partai yang bener yah
yg terbersih dari korupsi
(eh blum milih yah.. hihihi)
award ama PR dari sy kerjain sana
hohoho
@ @ coy
kalau rakyat gak siap untuk reformasi .
kapan Indonesia bisa maju ?
@ Infopemula
rakyatnya yang ……
enghh ,
yang mana ya ?
makasih
@ Luzman
Makasih .
Saya cuma menerjemahkan apa yang ada di otak saya saja .
Kebetulan saat itu otak kiri saya lagi powerful , jadi bisa merangkai kata sedemikian rupa .
XD
Ya, deh .
Lagi dikerjain nih .
MENGGUGAT PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT
Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi
dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat. Dan nekatnya hakim bejat ini menyesatkan masyarakat konsumen
Indonesia ini tentu berdasarkan asumsi bahwa masyarakat akan “trimo” terhadap putusan tersebut.
Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Masyarakat konsumen yang sangat dirugikan
mestinya berhak mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” dan menelanjangi kebusukan peradilan ini.
Siapa yang akan mulai??
David
HP. (0274)9345675
da g’ materi reformasi wat nag skolah SMA….
kok sulit banget
sulit untuk maju dan makmur. enakan waktu sebelum reformasi, para pencetus reformasi karena iri sama mantan presiden suharto.
Wah…bener banget nih isi blognya…Membantu lgi
Pak harto sudah membuat skenario panjang untuk memejukan bangsa ini tapi sayang…KEBODOHAN mahasiswa dan politisi GEBLEG yg membuat bangsa ini jadi seperti ini..APA YG DIHASILKAN DARI REFORMASI hasilnya NOL BESAR
saya senang telah membaca topik dari mu.
i like it
sangat sederhana…pada sila ke-4 dari pancasila, krn rakyat tidak terpimpin dgn baik oleh hikmat kebijaksanaan dlm permusyawaratan perwakilan, maka akan jauh dlm pencapaian sila ke-5 dari pancasila….